Jakarta – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merombak sejumlah jabatan strategis Polri melalui serah terima jabatan di Mabes Polri, Rabu (2/9/2026).
Pergantian tersebut mencakup posisi strategis di tingkat Mabes Polri hingga sejumlah jabatan pimpinan kepolisian daerah.
Upacara sertijab dan Korps Raport kenaikan pangkat berlangsung di Gedung Rupattama Mabes Polri, Jakarta.
Sejumlah perwira tinggi mendapat mandat baru dalam bidang operasi, sumber daya manusia, staf ahli, serta kepemimpinan kewilayahan.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menyebut rotasi sebagai bagian dari dinamika organisasi dan pembinaan karier.
“Serah terima jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri,” ujar Isir dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, pergantian pejabat juga menjadi bagian dari penyegaran organisasi untuk menjaga efektivitas pelaksanaan tugas kepolisian.
Roycke Langie Jadi Astamaops
Salah satu perubahan paling menonjol terjadi pada posisi Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi atau Astamaops.
Kapolri menunjuk Irjen Pol. Roycke Harry Langie untuk menduduki jabatan tersebut menggantikan Komjen Pol. Fadil Imran.
Fadil Imran memasuki masa pensiun sehingga Polri mengalihkan tongkat komando bidang operasi kepada Roycke.
Posisi Astamaops memiliki peran strategis karena berkaitan dengan pengelolaan dan pelaksanaan bidang operasional kepolisian.
Sebelumnya, Roycke menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Utara sebelum memperoleh penugasan baru di tingkat Mabes Polri.
Perubahan tersebut sekaligus membuka pergantian kepemimpinan di Polda Sulawesi Utara.
Brigjen Pol. Yudo Hermanto kemudian mendapat kepercayaan untuk memimpin Polda Sulawesi Utara sebagai Kapolda.
Yudo sebelumnya menjabat sebagai Karo Paminal Propam Polri sebelum memperoleh penugasan baru sebagai pimpinan kepolisian daerah.
Jawari Isi Posisi Asisten SDM
Rotasi juga menyentuh bidang sumber daya manusia yang memiliki peran penting dalam pembinaan personel Polri.
Irjen Pol. Jawari mendapat kepercayaan sebagai Asisten Kapolri Bidang SDM menggantikan Irjen Pol. Anwar.
Anwar memasuki masa pensiun sehingga Polri menunjuk pejabat baru untuk melanjutkan pengelolaan bidang sumber daya manusia.
Pergantian tersebut menjadi bagian dari kesinambungan organisasi sekaligus pembinaan karier perwira tinggi di lingkungan Polri.
Selanjutnya, Kapolri menunjuk Irjen Pol. Ruslan Effendi sebagai Koordinator Staf Ahli Kapolri.
Ruslan menggantikan Irjen Pol. Herry Rudolf Nahak yang juga memasuki masa pensiun.
Posisi tersebut berperan dalam memberikan dukungan pemikiran dan masukan strategis bagi pimpinan Polri.
Pergantian Pimpinan Polda Papua Barat Daya
Rotasi berikutnya menyasar jajaran pimpinan Polda Papua Barat Daya.
Brigjen Pol. Yulius Audie Sonny Latuheru yang sebelumnya menjabat Kapolda Papua Barat Daya mendapat penugasan baru sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.
Polri kemudian menunjuk Brigjen Pol. Hengki Haryadi sebagai Kapolda Papua Barat Daya.
Sebelumnya, Hengki menjabat sebagai Wakapolda Riau sebelum menerima mandat baru untuk memimpin Polda Papua Barat Daya.
Pergantian tersebut memperluas penataan jabatan hingga wilayah yang memiliki tantangan tugas kepolisian tersendiri.
Penyegaran Organisasi dan Pembinaan Karier
Kadiv Humas Polri menegaskan pergantian jabatan tidak sekadar memindahkan personel dari satu posisi ke posisi lainnya.
“Pergantian ini merupakan proses pembinaan karier sekaligus penyegaran organisasi,” kata Johnny Eddizon Isir.
Melalui rotasi tersebut, Polri menempatkan sejumlah perwira pada posisi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan dinamika tugas.
Penataan mencakup bidang operasi, sumber daya manusia, staf ahli, serta kepemimpinan kepolisian di tingkat daerah.
Dengan perubahan itu, pejabat baru menghadapi tuntutan untuk segera memahami persoalan, melanjutkan program, dan memastikan tugas organisasi tetap berjalan.
Namun, efektivitas rotasi pada akhirnya akan terlihat dari kemampuan pejabat baru menerjemahkan mandat menjadi kinerja nyata.
Terlebih, jabatan strategis membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan secara tepat serta menjaga soliditas internal.
Polri menempatkan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan tugas kepolisian.
Karena itu, pergantian pejabat strategis membawa konsekuensi tanggung jawab yang tidak ringan bagi setiap perwira yang menerima amanah.
Mesin Organisasi Memasuki Fase Baru
Rangkaian sertijab tersebut menandai perubahan komposisi kepemimpinan pada sejumlah lini penting Polri.
Selain menghadirkan pejabat baru, rotasi juga membuka fase konsolidasi bagi satuan kerja yang mengalami pergantian pimpinan.
Para pejabat baru kini memiliki tanggung jawab memastikan transisi berlangsung efektif tanpa mengganggu kesinambungan pelayanan kepolisian.
Pada saat yang sama, pimpinan baru perlu menjaga koordinasi internal agar perubahan personel tidak menghambat pelaksanaan program yang sedang berjalan.
Dengan demikian, rotasi menjadi momentum untuk memperkuat organisasi sekaligus menguji kemampuan kepemimpinan dalam menghadapi tuntutan tugas.
Keberhasilan penataan tersebut nantinya tidak hanya terlihat dari pergantian nama dan jabatan, tetapi dari kinerja yang dihasilkan setelah sertijab.
Polri kini memasuki fase baru dengan sejumlah figur baru pada posisi strategis, sementara masyarakat menunggu dampak nyata dari perubahan tersebut. #Ds







