CBG PalmCo-Renikola Diserap Pertagas, Perkuat Transisi Energi

Jakarta – PTPN IV PalmCo, reNIKOLA, dan Pertagas Niaga memperkuat transisi energi melalui pengembangan delapan klaster fasilitas compressed biomethane gas (CBG).

PT reNIKOLA Primer Energi (PT RPE) telah menandatangani perjanjian penjualan CBG jangka panjang dengan PT Pertagas Niaga (PTGN).

PTGN merupakan anak usaha PT Pertamina Gas yang akan menyerap CBG dari pengolahan limbah delapan pabrik kelapa sawit PTPN IV.

Pengembangan delapan klaster fasilitas tersebut membutuhkan estimasi investasi sebesar USD45 juta.

Setelah konstruksi selesai dan fasilitas beroperasi penuh, proyek itu diproyeksikan memasok energi terbarukan lebih dari 830.000 MMBtu per tahun.

Kerja sama tersebut sekaligus menghubungkan sektor perkebunan, pengembang energi terbarukan, serta infrastruktur distribusi gas dalam satu rantai pasok.

Proyek itu mengolah Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi sumber energi terbarukan.

Limbah Sawit Jadi Sumber Energi

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, proyek tersebut merupakan bagian dari implementasi ekonomi sirkular perusahaan.

Menurut Jatmiko, perusahaan tidak hanya menangani persoalan lingkungan melalui pemanfaatan limbah kelapa sawit.

Langkah tersebut juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari sumber daya yang tersedia di lingkungan operasional perusahaan.

“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami untuk meningkatkan keberlanjutan operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang ada,” ujar Jatmiko.

“Dengan mengubah emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan, kami menunjukkan bagaimana industri kelapa sawit dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan rendah karbon di Indonesia,” lanjutnya.

Selanjutnya, Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menyebut proyek delapan pabrik tersebut sebagai bagian dari roadmap dekarbonisasi perusahaan.

“Integrasi pengolahan limbah sawit ini sejalan dengan target nasional dalam mencapai Net Zero Emission,” tutur Ugun.

Ia menilai kolaborasi tersebut mempertemukan penyuplai bahan baku, pengembang teknologi, dan offtaker dalam satu skema bisnis.

“Kerja sama antara penyuplai bahan baku, pengembang teknologi dari reNIKOLA, serta offtaker dari Pertagas Niaga membuktikan bahwa transisi energi di sektor sawit dapat dieksekusi secara terukur dan berkelanjutan secara bisnis,” ujarnya.

Pertagas Siapkan Integrasi Jaringan Gas

Dalam skema komersial tersebut, PTGN akan bertindak sebagai offtaker CBG yang diproduksi PT RPE selama masa kontrak 15 tahun.

Selanjutnya, gas substitusi itu akan disalurkan kepada konsumen industri melalui jaringan distribusi gas bumi yang sudah beroperasi.

Untuk menunjang distribusi berskala besar, PERTAGAS merencanakan pengembangan stasiun injeksi biometana di sekitar KEK Sei Mangkei.

Fasilitas tersebut akan menghubungkan pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit dengan jaringan distribusi gas nasional.

Chief Operating Officer reNIKOLA Dr. Amran Yusof atau Bob menilai kerja sama hulu-hilir tersebut penting bagi pengembangan pasar gas terbarukan.

“Perjanjian ini merupakan tonggak penting dalam upaya kami untuk menggali potensi nilai biometana di Indonesia,” papar Amran.

Ia menjelaskan, skema tersebut mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan kebutuhan pasar dalam jangka panjang.

“Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat dikembangkan secara luas,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PTGN Toto Yulianto menilai gas terbarukan dapat mendukung kebutuhan energi rendah karbon sektor manufaktur dan industri berat.

“Gas terbarukan memiliki peran penting dalam mendukung transisi energi Indonesia, khususnya bagi konsumen industri yang membutuhkan solusi energi rendah karbon,” ungkap Toto.

Menurut Toto, kolaborasi tersebut membuka jalur integrasi biometana ke jaringan gas yang telah tersedia.

Tekan Emisi, Dorong Lapangan Kerja

Secara teknis, fasilitas CBG menangkap gas metana dari proses pembusukan POME sebelum gas tersebut terlepas ke atmosfer.

Pengolahan itu diperkirakan mampu memangkas emisi gas rumah kaca hingga 320.000 ton setara CO₂ setiap tahun.

Berdasarkan rasio emisi, pengurangan tersebut setara dengan menghindari pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara setiap tahun.

Selain manfaat lingkungan, pembangunan dan operasional delapan fasilitas CBG juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi bagi wilayah sekitar.

Proyek tersebut diperkirakan membuka ribuan lapangan kerja berbasis lingkungan atau green jobs di Indonesia.

Pada saat yang sama, kegiatan proyek diharapkan memberdayakan rantai pasok lokal di sekitar wilayah operasional perkebunan.

Dengan investasi USD45 juta, proyek ini menempatkan pengolahan limbah sawit sebagai bagian dari rantai energi terbarukan.

Skema tersebut menggabungkan pemanfaatan limbah, pengurangan emisi, penyediaan energi, serta pengembangan infrastruktur gas.

Kerja sama itu juga menunjukkan upaya mempertemukan kebutuhan dekarbonisasi industri dengan pemanfaatan infrastruktur energi yang telah tersedia.