Opini  

Rintihan Anak Indonesia

Coba tanyakan pada anak-anak kita di rumah:
“Kalau bisa lahir kembali, kamu ingin lahir di mana?”
Jawabannya sering bikin kaget:
“Jangan di Indonesia.”

Mungkin terdengar menyakitkan, tapi data menunjukkan ada alasan kuat.

Rumah: Tempat Aman yang Tidak Selalu Aman
SIMFONI-PPA mencatat 28.831 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2024. Mayoritas korban anak perempuan, tapi anak laki-laki pun tidak luput. Jadi, rumah yang kita sebut “tempat ternyaman” kadang justru jadi lokasi trauma pertama.

Sekolah: Ruang Belajar atau Ruang Luka?
Di sekolah, dari Januari–Agustus 2023 tercatat 861 kasus kekerasan:

487 kekerasan seksual

236 fisik/psikis

87 bullying

Sepertinya, selain matematika dan IPA, banyak anak juga “belajar” rasa takut.

Dan untuk bisa sampai ke sekolah pun, sebagian anak harus bertarung hidup-mati:

Bergelantungan di jembatan gantung yang nyaris putus.

Menumpang perahu reyot melawan arus sungai.

Bahkan ada yang menjadi korban saat bangunan sekolah runtuh karena buruknya fasilitas.

Di negeri yang katanya sudah merdeka puluhan tahun, akses menuju sekolah masih seperti uji nyali.

Dunia Digital: Medsos Jadi Medan Baru
Kalau rumah dan sekolah tidak cukup, media sosial melanjutkan “pendidikan”.

45% remaja usia 14–24 tahun pernah jadi korban cyberbullying (UNICEF).

500 ribu anak pernah mengalami eksploitasi seksual online dalam setahun terakhir.

Komnas Perempuan mencatat sebagian besar kasus kekerasan seksual 2024 justru terjadi di ruang online.

Artinya, layar yang kita kira hiburan, bisa berubah jadi jerat.

Pejabat Publik: Bicara Tidak Nyambung
Saat kasus muncul, komentar pejabat publik sering kali tidak nyambung dengan persoalan:

Ada yang menyebut anak harus “lebih tangguh”, seolah sedang ikut lomba gladiator.

Ada yang melontarkan wacana “kurikulum gizi”, padahal kasus keracunan jelas terjadi karena orang dewasa yang lalai, bukan karena anak salah makan.

Ada pula yang sibuk membuat istilah baru, tapi lupa dengan kenyataan yang dialami anak-anak.

Akhirnya, masalah serius yang dialami anak-anak hanya dijawab dengan kata-kata manis yang tak pernah menyentuh realita mereka.

Pertanyaan yang Jarang Ditanyakan
Anak-anak dituntut berprestasi, disiplin, kuat menghadapi dunia nyata dan digital. Tapi jarang ada yang bertanya sederhana:

“Apa yang kamu inginkan?”

“Apa yang membuat kamu merasa aman?”

Satirenya jelas:
Kalau anak masih harus bertahan hidup di rumah, sekolah, dan dunia maya—bahkan harus bergelantungan di jembatan dan mempertaruhkan nyawa hanya untuk belajar—sementara pejabat sibuk bicara tidak nyambung, jangan salahkan mereka kalau suatu hari menjawab:
“Kalau bisa lahir kembali, jangan di sini.”

Yuk, Mulai dari Sini
Coba tanyakan pertanyaan sederhana itu pada anak kita hari ini. Dengarkan, lalu bertindak—buat rumah, sekolah, dan dunia digital jadi tempat yang benar-benar aman. Karena perubahan dimulai dari kita, bukan dari jargon.

Novita sari yahya
Penulis dan peneliti.
Ibu dari dua putra dan satu putri yang suka bingung dengan kondisi generasi z