Hari Tani Nasional, PalmCo Perkuat Serapan TBS dan Pendampingan Petani

Jakarta – Peringatan Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk menyoroti posisi petani sawit rakyat dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.

Di tengah fluktuasi harga komoditas dan tuntutan peningkatan produktivitas, kepastian pasar serta pendampingan menjadi kebutuhan penting bagi petani.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo menempuh pendekatan kemitraan melalui penyerapan Tandan Buah Segar (TBS) dan pendampingan peremajaan kebun rakyat.

Sejak 2024 hingga Agustus 2026, pabrik kelapa sawit PalmCo tercatat telah menyerap sedikitnya 8,42 juta ton TBS dari kebun sawit rakyat.

Penyerapan tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap akses pasar petani di tengah dinamika industri sawit.

Namun, persoalan perkebunan rakyat tidak hanya berkaitan dengan pemasaran hasil panen.

Produktivitas kebun juga menjadi tantangan karena sebagian tanaman sawit rakyat telah memasuki usia tua dan membutuhkan peremajaan.

Sawit Rakyat Jadi Penopang Industri Nasional

Kepala Pusat Studi Sawit IPB University Prof. Budi Mulyanto mengatakan perkebunan rakyat memiliki posisi penting dalam struktur industri sawit nasional.

Menurut dia, hampir separuh perkebunan sawit Indonesia berasal dari perkebunan rakyat, sementara sebagian tanaman tersebut telah berusia tua.

“Peremajaan sawit ini sangat penting. Saat ini hampir 50 persen sawit Indonesia itu merupakan sawit rakyat dan sebagian besar tanaman sudah tua,” ujar Prof. Budi.

Ia menilai kondisi tanaman yang menua berpotensi menekan produktivitas TBS secara nasional.

Karena itu, agenda peremajaan menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan bahan baku industri.

“Kalau tidak diremajakan, maka bagaimana kita bicara program hilirisasi? Karena produksi menentukan hilirisasi,” katanya.

Persoalan tersebut membuat peningkatan produktivitas kebun rakyat berkaitan langsung dengan keberlanjutan pasokan bahan baku industri.

Dengan demikian, program peremajaan tidak hanya menyangkut kepentingan petani, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan rantai pasok sawit nasional.

PalmCo Perkuat Pendampingan PSR

Sebagai subholding BUMN perkebunan yang terbentuk pada Desember 2023, PalmCo menjalankan peran dalam pendampingan peremajaan sekaligus penyerapan hasil panen petani.

Pendampingan tersebut mencakup edukasi serta penerbitan Rekomendasi Teknis atau Rekomtek bagi petani peserta Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Rekomtek menjadi salah satu tahapan yang diperlukan petani untuk mengakses dukungan pendanaan program PSR.

Data perusahaan menunjukkan pendampingan PSR terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2024, PalmCo mendampingi program PSR dengan cakupan 13.493 hektare kebun sawit rakyat.

Setahun berikutnya, cakupan pendampingan meningkat menjadi 23.188 hektare.

Sementara itu, hingga Agustus 2026, perusahaan mencatat pendampingan terhadap 49.077,94 hektare kebun rakyat di berbagai wilayah operasional.

Peningkatan tersebut menunjukkan skala pendampingan yang semakin luas, meski keberhasilan program pada akhirnya tetap bergantung pada produktivitas kebun dan penguatan kelembagaan petani.

Manajemen Tunggal untuk Perkuat Petani

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan perusahaan menerapkan pendekatan single management atau manajemen tunggal dalam pendampingan petani.

Melalui pendekatan tersebut, kebun rakyat mendapatkan pendampingan dengan standar pengelolaan yang disetarakan dengan kebun inti perusahaan.

“Kami memastikan bahwa petani tidak berdiri sendiri,” kata Jatmiko.

“Kami hadir untuk mendampingi mereka dari proses administrasi awal untuk peremajaan kebun, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang setara dengan standar kebun inti, hingga memberikan jaminan penyerapan TBS dengan harga yang adil,” lanjutnya.

Menurut Jatmiko, pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan produktivitas kebun sekaligus menjaga stabilitas pasokan bahan baku bagi pabrik pengolahan perusahaan.

Dengan pola itu, hubungan antara perusahaan dan petani tidak berhenti pada transaksi pembelian TBS.

Pendampingan juga diarahkan pada peningkatan praktik budidaya dan kesiapan petani menghadapi siklus produksi setelah peremajaan.

Petani Dorong Penguatan Kelembagaan

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia Setiyono menilai kemitraan antara perusahaan, KUD, dan petani dapat membantu mengatasi sejumlah persoalan di tingkat lapangan.

Menurut Setiyono, PSR tidak semata-mata bertujuan mengganti tanaman tua dengan tanaman baru.

“Bagi kami para petani sawit, Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) bukan sekadar program untuk mengganti tanaman tua dengan tanaman baru. Lebih dari itu, PSR adalah harapan baru bagi petani,” ujarnya.

Ia menilai ukuran keberhasilan kemitraan dan PSR juga harus melihat dampaknya terhadap kehidupan petani.

Indikator tersebut mencakup produktivitas kebun, pendapatan keluarga, penguatan kelembagaan, serta keberlanjutan usaha perkebunan rakyat.

Karena itu, peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan penguatan organisasi petani dan tata kelola kelembagaan.

KUD dan kelompok petani memiliki posisi penting dalam memastikan manfaat program dapat berlanjut setelah proses peremajaan selesai.

Pada akhirnya, momentum Hari Tani Nasional tidak hanya mengingatkan pentingnya peran petani dalam rantai pasok nasional.

Momentum tersebut juga menjadi ruang untuk melihat kembali kebutuhan petani terhadap akses pasar, produktivitas, pendampingan, serta kelembagaan yang kuat.

Bagi industri sawit, keberlanjutan pasokan bahan baku sangat berkaitan dengan kemampuan perkebunan rakyat mempertahankan produktivitasnya.

Karena itu, keberhasilan kemitraan tidak cukup diukur dari luas lahan yang diremajakan atau volume TBS yang terserap.

Dampak terhadap produktivitas, pendapatan, kemandirian petani, dan keberlanjutan kebun menjadi ukuran yang lebih menentukan dalam jangka panjang.