Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)
Saya tidak tahu bagaimana perasaan Presiden Prabowo Subianto ketika bersama Tim Indonesia mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup di hadapan puluhan ribu penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10) malam.
Namun, dari layar televisi, suasana itu terlihat penuh haru dan kebanggaan.
Presiden tentu memiliki alasan untuk bangga karena kemenangan melalui adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 tersebut menorehkan sejarah bagi sepak bola Indonesia.
Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi juara sepak bola di kawasan Asia Tenggara setelah menunggu selama puluhan tahun.
Jutaan rakyat Indonesia pun ikut merasakan kebanggaan tersebut, terutama mereka yang menyaksikan pertandingan melalui siaran langsung dari berbagai pelosok negeri.
Melalui media massa dan media sosial, kita melihat antusiasme masyarakat yang menggelar nonton bareng di berbagai daerah.
Bahkan, setelah Indonesia memastikan kemenangan, kegembiraan spontan muncul di berbagai tempat.
Ketika Emil Audero Mulyadi berhasil menepis tendangan pemain Thailand pada kesempatan keempat, kegembiraan penonton langsung meledak.
Mereka melompat, berteriak, bersalaman, dan berpelukan.
Sebagian lainnya bahkan berkeliling kota menggunakan sepeda motor untuk meluapkan kebahagiaan.
Kita memang sudah terlalu lama menunggu momentum seperti ini.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah mencoba berbagai resep untuk meningkatkan prestasi Timnas Indonesia.
Salah satunya melalui kehadiran pemain-pemain keturunan Indonesia yang berkarier di liga Eropa.
Entah sudah berapa pelatih asing dari Eropa maupun Asia yang didatangkan untuk menangani tim nasional.
Kini, John Herdman menjadi pelatih yang menikmati manisnya keberhasilan tersebut bersama Timnas Indonesia.
Tentu saja, dari sisi lain, akan muncul kritik bahwa kemenangan ini belum sepenuhnya mencerminkan hasil pembinaan pemain lokal Indonesia.
Ada pula pandangan mengenai besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan dan mengelola pemain yang berkarier di Eropa.
Semua kritik itu sah untuk dibicarakan dan dievaluasi.
Namun, untuk sementara, singkirkan dulu perdebatan tersebut.
Mari kita menikmati kegembiraan karena kemenangan ini telah membuat hati puluhan juta warga Indonesia berbunga-bunga.
Mereka bisa bermimpi indah.
Mereka bekerja pada Selasa pagi dengan semangat baru, meskipun mungkin sebagian masih mengantuk karena larut menyaksikan pertandingan.
Bagi mereka yang mengeluarkan uang untuk hadir langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pengalaman tersebut tentu memiliki nilai tersendiri.
Mengenakan seragam merah Timnas Indonesia, berfoto di stadion, kemudian mengunggahnya ke media sosial menjadi kenangan yang membanggakan.
Di situlah salah satu kekuatan olahraga.
Olahraga mampu membangun kebanggaan, menyatukan emosi, dan menghadirkan kebahagiaan yang sulit diukur dengan materi.
Terlebih ketika kehidupan sehari-hari sering menghadirkan persoalan yang membuat pikiran buntu dan kepala terasa penuh.
Olahraga dan Kebanggaan Bangsa
Stadion Gelora Bung Karno dan kompleks olahraga Senayan merupakan bagian penting dari sejarah olahraga Indonesia.
Kawasan tersebut dibangun untuk menyambut Asian Games IV pada 1962.
Sejarah itu menunjukkan bagaimana Presiden Soekarno berusaha menjadikan olahraga sebagai salah satu sumber kebanggaan bangsa.
Indonesia ketika itu ingin menunjukkan bahwa sebagai negara yang baru merdeka, kita mampu berdiri dengan kemampuan sendiri.
Indonesia juga berusaha menunjukkan eksistensinya di tengah persaingan politik dunia yang terbagi dalam berbagai kekuatan.
Dalam olahraga, Indonesia mampu menunjukkan prestasi yang membanggakan.
Indonesia bahkan menempati posisi kedua di Asian Games IV di bawah Jepang.
Prestasi tersebut lahir dari pembinaan dan persiapan yang serius, termasuk mendatangkan pelatih dari luar negeri serta memberikan pengalaman internasional kepada atlet.
Pada masa itu, olahraga tidak sekadar dipandang sebagai pertandingan untuk mencari pemenang.
Olahraga juga menjadi instrumen untuk membangun karakter, kepercayaan diri, dan kebanggaan nasional.
Indonesia kemudian menunjukkan kekuatan tersebut dalam berbagai ajang internasional.
Di bidang politik internasional, Presiden Soekarno dikenal sebagai salah satu tokoh penting Gerakan Non-Blok bersama sejumlah pemimpin negara Asia, Afrika, dan negara berkembang lainnya.
Sementara itu, di bidang olahraga, Indonesia berusaha menunjukkan kemampuan yang tidak kalah dengan negara-negara lain.
Indonesia bahkan menyelenggarakan Games of the New Emerging Forces atau Ganefo.
Walaupun perjalanan Ganefo menghadapi berbagai persoalan dan hanya terselenggara dua kali, semangat membangun kekuatan olahraga nasional telah menjadi bagian dari sejarah bangsa.
Pembinaan Tidak Bisa Instan
Ketika Indonesia bergabung dalam pesta olahraga Asia Tenggara pada 1977, prestasi olahraga nasional juga menunjukkan kekuatan pembinaan.
Indonesia langsung menjadi juara umum SEA Games dan kemudian mempertahankan posisi tersebut hingga akhirnya terhenti pada 1985 di Bangkok.
Program pemerintah pada masa Presiden Soeharto, “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”, ikut mendorong berkembangnya pembinaan olahraga secara berjenjang.
Ada pusat-pusat latihan daerah di berbagai provinsi.
Kompetisi juga berlangsung mulai tingkat sekolah, perguruan tinggi, hingga kejuaraan junior.
Sekolah Olahraga Ragunan menjadi salah satu tempat yang memberi kesempatan kepada atlet muda untuk berkembang sembari tetap memperoleh pendidikan.
Para atlet menjalani latihan pagi dan sore, sementara pendidikan formal tetap menjadi bekal mereka untuk melanjutkan kehidupan setelah karier olahraga berakhir.
Pola tersebut menunjukkan satu hal penting.
Prestasi olahraga tidak lahir secara tiba-tiba.
Atlet membutuhkan proses panjang, latihan intensif, kompetisi yang teratur, dukungan pelatih, fasilitas memadai, serta sistem pembinaan yang konsisten.
Indonesia kemudian menikmati berbagai prestasi internasional.
Tim bulu tangkis nasional berkali-kali merebut Piala Thomas dan Piala Uber.
Indonesia juga menjadi kekuatan utama di Asia Tenggara.
Puncaknya, Indonesia untuk pertama kali meraih medali emas Olimpiade pada Barcelona 1992 setelah sebelumnya memperoleh medali perak di Seoul 1988.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang terarah dapat menghasilkan atlet berkelas dunia.
Asian Games dan Pekerjaan Rumah Pembinaan
Keberhasilan Indonesia meraih lima medali emas pada Asian Games 2026 melalui cabang angkat besi, panahan, panjat tebing, serta bulu tangkis menunjukkan potensi olahraga nasional.
Prestasi tersebut semakin berarti karena sebagian cabang tersebut merupakan cabang yang dipertandingkan dalam Olimpiade.
Selain emas, Indonesia juga memperoleh medali perak dan perunggu dari sejumlah cabang olahraga.
Di antaranya menembak, dayung, voli pantai, panahan, bulu tangkis, dan balap sepeda.
Sementara itu, atletik dan renang memang belum berhasil membawa pulang medali.
Namun, penampilan mereka di Asian Games 2026 dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk pembinaan berikutnya.
Apabila mendapatkan penanganan yang tepat, peluang peningkatan prestasi tetap terbuka.
Menjadi yang terbaik membutuhkan waktu panjang.
Atlet harus menjalani latihan intensif sekaligus memperoleh pengalaman melalui kompetisi internasional secara berkelanjutan.
Karena itu, evaluasi terhadap kontingen Indonesia di Asian Games 2026 seharusnya menghasilkan rekomendasi konkret bagi pembinaan olahraga nasional.
Kementerian Pemuda dan Olahraga perlu mendorong pembinaan berkelanjutan bersama induk organisasi cabang olahraga.
Peta jalan pembinaan harus jelas.
Anggaran harus disiapkan secara terencana.
Pelatihan nasional juga perlu dirancang dalam kerangka jangka panjang atau multi-years.
Jika sebelumnya terdapat cabang olahraga prioritas, sudah saatnya pembagian prioritas itu dibuat secara lebih tegas.
KONI sebagai koordinator pembinaan olahraga perlu bersama pemangku kepentingan menentukan cabang yang sangat penting, penting, dan kurang prioritas.
Konsekuensinya juga harus jelas.
Mana cabang yang memperoleh pembiayaan penuh, mana yang mendapat subsidi, dan mana yang harus mengembangkan pembiayaan secara mandiri.
Kondisi keuangan negara yang memiliki banyak kebutuhan membuat kita harus berani menentukan pilihan.
Pilihan tersebut tentu harus berbasis prestasi, potensi, kebutuhan pembinaan, dan kepentingan olahraga nasional.
Pers Harus Tetap Mengawal
Di sinilah pers memiliki peran penting.
Pers harus terus mengawal pembinaan olahraga agar berjalan pada jalur yang benar.
Pengawasan tersebut bukan soal suka atau tidak suka kepada seseorang.
Bukan pula soal apakah pembinanya merupakan tokoh penting, orang berpengaruh, atau pengusaha.
Ukuran utamanya harus tetap prestasi, proses pembinaan, transparansi, dan kepentingan olahraga nasional.
Memang, pengaruh media massa saat ini menghadapi perubahan besar karena masyarakat memperoleh informasi dari media sosial.
Namun, perubahan tersebut tidak menghapus tanggung jawab pers untuk mengungkapkan fakta.
Pers tetap diperlukan sebagai salah satu instrumen kontrol publik.
Olahraga jangan sampai berjalan seperti lagu yang serong ke kanan, sering ke kiri, dan berubah arah mengikuti selera.
Pembinaan membutuhkan konsistensi.
Kebijakan membutuhkan evaluasi.
Prestasi membutuhkan keberanian untuk mempertahankan program yang berhasil sekaligus memperbaiki kebijakan yang tidak efektif.
Bangsa Juara Membutuhkan Kerja Bersama
Kesuksesan Tim Indonesia merebut Piala FIFA ASEAN dan keberhasilan melampaui target perolehan medali emas di Asian Games Aichi-Nagoya menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi menjadi bangsa yang berprestasi melalui olahraga.
Kita bisa menang dan berhasil apabila seluruh pelaku olahraga bekerja sungguh-sungguh hingga mencapai hasil terbaik.
Masyarakat juga memiliki peran melalui dukungan, doa, perhatian, dan kontribusi kepada atlet serta pelatih.
Dukungan tersebut dapat menjadi energi tambahan bagi mereka untuk menghadapi persaingan di tingkat internasional.
Pemerintah, sebagai pengayom, juga harus memberikan dukungan anggaran sesuai kebutuhan dan kemampuan negara.
Sektor swasta dapat dilibatkan untuk memperkuat pembiayaan pembinaan.
Pada akhirnya, kesuksesan olahraga bukan hanya kesuksesan atlet.
Kesuksesan olahraga merupakan bagian dari kebanggaan bangsa dan negara.
Karena itu, mari bahu-membahu membangun olahraga Indonesia.
Bukan hanya untuk memenangkan pertandingan hari ini, tetapi juga untuk menciptakan sistem pembinaan yang mampu melahirkan juara pada masa depan.
Dengan olahraga, kita bisa bersatu.
Dengan olahraga pula, kita dapat menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri tegak dan berprestasi di tengah persaingan dunia.
Merdeka.
Ciputat, 6 Oktober 2026







