PTPN IV PalmCo Uji Tanam Kedelai 1.000 Hektare untuk Tekan Impor

Serdang Bedagai, 31 Agustus 2026 – PTPN IV PalmCo menguji budidaya kedelai seluas 1.000 hektare untuk memperkuat produksi domestik dan menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Perusahaan memulai proyek percontohan tersebut melalui penanaman serentak pada 20 titik di wilayah kerja yang tersebar di enam provinsi.

Penanaman perdana berlangsung di Kebun Adolina Regional 2, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Jumat pekan lalu.

Manajemen regional di wilayah lain mengikuti kegiatan melalui sambungan daring untuk memastikan pelaksanaan program berjalan secara serentak.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan program tersebut merupakan tindak lanjut penugasan pemerintah dalam agenda ketahanan pangan nasional.

“Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai,” ujar Jatmiko, Senin (31/8/2026).

Menurut Jatmiko, Presiden melalui Menteri Pertanian mengarahkan peningkatan produksi kedelai nasional sekaligus pengurangan kebutuhan impor.

Langkah PalmCo tersebut menempatkan perusahaan perkebunan negara dalam salah satu upaya memperluas sumber produksi pangan di tengah tingginya ketergantungan impor.

Lahan Replanting Jadi Areal Produksi

PalmCo memanfaatkan lahan peremajaan sawit sebagai areal penanaman kedelai dalam proyek percontohan tersebut.

Perusahaan menggunakan masa sekitar enam bulan sebelum penanaman kembali sawit untuk menghasilkan komoditas pangan.

“Kita optimalisasikan areal peremajaan ataupun konversi sawit,” kata Jatmiko.

Dengan strategi itu, perusahaan mencoba meningkatkan produktivitas lahan tanpa mengubah tujuan utama kawasan sebagai areal perkebunan sawit.

PalmCo menyiapkan 1.000 hektare sebagai tahap awal karena perusahaan belum memiliki pengalaman budidaya kedelai dalam skala tersebut.

Karena itu, manajemen akan mengevaluasi hasil proyek dari aspek produktivitas, teknis, serta kelayakan investasi.

Jatmiko mengatakan perusahaan akan memperluas penanaman apabila proyek tersebut menunjukkan hasil positif dan memenuhi berbagai indikator kelayakan.

“Jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif,” ujarnya.

Ia menegaskan perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian investasi sesuai arahan Danantara.

Defisit 2,5 Juta Ton per Tahun

Kebutuhan peningkatan produksi kedelai domestik tidak terlepas dari tingginya defisit pasokan nasional.

Jatmiko menyebut Indonesia rata-rata mengalami defisit kedelai sekitar 2,5 juta ton per tahun selama lima tahun terakhir.

Menurut dia, sekitar 97 persen kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor.

Situasi tersebut menunjukkan tantangan besar dalam membangun ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas yang memiliki kebutuhan tinggi di masyarakat.

Karena itu, keberhasilan proyek percontohan PalmCo akan menjadi salah satu faktor penting sebelum perusahaan mengambil keputusan memperluas penanaman.

Perwakilan Direktur Jenderal Pangan Kementerian Pertanian, Arief Muliawan, mengapresiasi langkah PalmCo tersebut.

“Kami memberikan apresiasi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan berbagai program swasembada pangan nasional,” kata Arief.

Ia berharap proyek tersebut berhasil dan mendorong perusahaan lain mengikuti langkah serupa.

Kolaborasi Tentukan Keberlanjutan

Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero), Rizal H. Damanik, menilai kolaborasi menjadi kunci untuk memperbesar skala program.

Menurut Rizal, pemerintah, perusahaan, kelompok tani, mitra strategis, serta offtaker perlu membangun ekosistem yang saling mendukung.

“Jika ingin skalanya lebih besar dan persentase keberhasilannya tinggi, kerja sama banyak pihak pasti akan sangat dibutuhkan,” ujar Rizal.

Ia juga menekankan pentingnya kepastian serapan hasil agar produksi kedelai memiliki pasar yang jelas setelah panen.

Dalam tahap awal, PalmCo menggunakan kedelai varietas Grobogan yang memiliki potensi produksi hingga dua ton per hektare.

Varietas tersebut memiliki siklus budidaya sekitar 85-90 hari sehingga dapat menyesuaikan masa tunggu sebelum penanaman kembali sawit.

Selanjutnya, perusahaan akan menilai hasil produksi dan berbagai aspek kelayakan sebelum menentukan perluasan proyek.

Evaluasi tersebut penting untuk memastikan program tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi mampu berkembang secara ekonomis dan berkelanjutan.

Dukungan pemerintah, pemerintah daerah, kelompok tani, mitra strategis, dan offtaker menjadi faktor penting dalam proses pengembangan.

Jika hasil uji menunjukkan prospek yang kuat, PalmCo berpeluang memperluas pemanfaatan lahan replanting untuk produksi kedelai.

Langkah itu sekaligus membuka ruang bagi sektor perkebunan negara untuk ikut memperkuat pasokan pangan nasional.

Namun, target mengurangi impor tetap membutuhkan peningkatan produktivitas yang konsisten serta jaminan pasar bagi hasil produksi dalam negeri.

Melalui pilot project 1.000 hektare ini, PalmCo mulai menguji sejauh mana lahan replanting sawit dapat mendukung agenda penguatan produksi kedelai nasional.