Bintan – Suasana khas Melayu terasa kental di Balai Adat Megat Srirama, Kijang, Kamis (29/5/2025), saat tokoh-tokoh adat dan pemerintah berkumpul dalam Musyawarah Daerah (Musda) IV Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bintan. Tak hanya pemuka adat dan pejabat sipil, kehadiran Danlanal Bintan dan jajaran TNI AL menjadi simbol pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun daerah yang berakar pada nilai-nilai budaya.
Musda yang digelar lima tahun sekali ini tak sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Ia menjelma menjadi panggung kebersamaan antara pemangku jabatan dan pemangku adat dalam menyatukan visi: menjadikan budaya Melayu sebagai pondasi pembangunan Bintan yang berkelanjutan.
“LAM bukan sekadar pelestari tradisi, tapi mitra strategis dalam merawat jati diri daerah. Sinergi dengan TNI dan pemerintah sangat penting,” ujar Ketua LAM Provinsi Kepri, Datok Musaffa Abbas, yang juga menuntaskan masa jabatannya sebagai Ketua LAM Bintan periode 2020–2025.
Dalam forum itu, hadir pula Asisten Administrasi Umum Setda Bintan dr. Gama Af Isnaeni, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Arief Sumarsono, Ketua Komisi II DPRD Suprapto, dan perwakilan LAM se-Kecamatan Bintan. TNI AL melalui Danlanal Bintan menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian kearifan lokal sebagai bagian dari pertahanan non-militer bangsa.
Keterlibatan aktif Lanal Bintan dalam forum adat ini mencerminkan pendekatan humanis militer, di mana stabilitas dan pembangunan sosial turut dirajut melalui pendekatan budaya.
Selain agenda laporan pertanggungjawaban dan sidang-sidang komisi, Musda juga menjadi momentum penting dalam menentukan nahkoda baru LAM Kabupaten Bintan periode 2025–2030. Para calon ketua yang hadir diharapkan mampu melanjutkan peran LAM sebagai penjaga nilai luhur sekaligus penghubung antara masa lalu dan masa depan Bintan.
“Budaya bukan hanya soal masa lalu. Ia adalah fondasi untuk hari ini dan visi bagi esok. Dan kita semua punya tanggung jawab menjaganya,” ujar salah satu tokoh muda Zuriat Bentan, M. Ali, yang ikut memberikan sambutan.
Dengan semangat kebersamaan yang ditunjukkan berbagai elemen, Musda IV LAM Bintan bukan hanya tonggak organisasi, tetapi juga penanda bahwa akar budaya tetap menjadi penopang utama dalam dinamika pembangunan Kepulauan Riau.
(Lanal Bintan)







