Jakarta – Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Adhe Hariadi berdialog dengan keluarga korban Tragedi Tanjung Priok 1984 di Cilincing, Rabu (9/9/2026).
Adhe menemui tokoh masyarakat Beni Biki yang juga merupakan bagian dari keluarga korban di Masjid Raya Al-Araf.
Pertemuan berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB dan menjadi ruang komunikasi antara kepolisian dengan keluarga korban.
Dalam dialog tersebut, keluarga menyampaikan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian terhadap keluarga korban Tragedi Tanjung Priok 1984.
Keluarga juga menyampaikan informasi mengenai rencana sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi terkait persoalan tragedi tersebut.
Kapolres Metro Jakarta Utara menegaskan pihaknya membuka ruang komunikasi untuk menerima aspirasi yang disampaikan keluarga.
“Kami akan menampung segala aspirasi dari keluarga korban Tragedi Tanjung Priok 1984,” ujar Adhe Hariadi.
Menurut Adhe, pertemuan itu menjadi bagian dari pendekatan kepolisian untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat.
Kepolisian Buka Ruang Dialog
Adhe menilai komunikasi langsung penting untuk memahami aspirasi masyarakat sekaligus menjaga hubungan yang konstruktif.
Karena itu, kepolisian memilih pendekatan dialogis dalam merespons berbagai informasi dan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia juga mengajak keluarga korban dan seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga keamanan serta ketertiban di Jakarta Utara.
“Kehadiran kami datang ke sini merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi,” kata Adhe.
“Mari kita saling menjaga harkamtibmas di wilayah kita,” lanjutnya.
Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian menjaga situasi tetap aman tanpa mengabaikan ruang masyarakat menyampaikan aspirasi.
Dalam konteks itu, penyampaian aspirasi tetap membutuhkan komunikasi yang tertib agar tidak berkembang menjadi gangguan keamanan.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dan kekeluargaan antara Kapolres, tokoh masyarakat, serta keluarga korban.
Polisi tidak hanya mendengarkan aspirasi, tetapi juga membangun komunikasi langsung dengan pihak yang memiliki kepentingan terhadap persoalan tersebut.
Pendekatan semacam itu memberi ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan pandangan secara terbuka dalam suasana yang kondusif.
Aspirasi dan Kamtibmas Berjalan Bersamaan
Persoalan Tragedi Tanjung Priok 1984 memiliki dimensi sejarah dan sosial yang sensitif bagi sebagian masyarakat.
Karena itu, komunikasi yang hati-hati menjadi penting agar penyampaian aspirasi berlangsung secara tertib dan tidak memicu ketegangan baru.
Keluarga korban tetap memiliki ruang untuk menyampaikan harapan kepada pemerintah melalui jalur yang tersedia.
Pada saat yang sama, kepolisian memiliki tanggung jawab menjaga keamanan masyarakat selama berbagai kegiatan berlangsung.
Pertemuan tersebut memperlihatkan upaya mempertemukan kebutuhan komunikasi dengan kepentingan menjaga stabilitas keamanan wilayah.
Setelah berdiskusi, Adhe bersama keluarga Beni Biki melaksanakan salat Zuhur sekitar pukul 12.00 WIB.
Kegiatan tersebut sekaligus menutup rangkaian kunjungan silaturahmi yang berlangsung di Masjid Raya Al-Araf.
Bagi kepolisian, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya menyerap aspirasi secara langsung dari masyarakat.
Sementara bagi keluarga korban, dialog tersebut membuka ruang untuk menyampaikan harapan dan perhatian yang mereka inginkan.
Dengan demikian, komunikasi langsung menjadi langkah penting untuk menjaga hubungan antara kepolisian dan masyarakat Jakarta Utara.
Kepolisian berharap seluruh pihak dapat mempertahankan suasana kondusif sambil tetap menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan dialogis Polres Metro Jakarta Utara dalam menjaga keamanan sekaligus membangun kepercayaan publik.







