Pekanbaru – Program TJSL PTPN IV PalmCo mendorong lonjakan produksi sentra pandai besi Desa Teratak, Kampar, Riau hingga 10 kali lipat pada 2026.
Transformasi tersebut mengubah kapasitas produksi dari sekitar 3.000 unit menjadi 30.000 alat perkebunan per bulan dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan ini melibatkan kelompok usaha lokal yang sebelumnya bekerja terbatas dengan metode tradisional dan kapasitas produksi rendah.
PalmCo kemudian masuk melalui program TJSL dengan pendekatan pendampingan, pembiayaan, dan modernisasi alat produksi.
Perusahaan menyalurkan bantuan mesin seperti air hammer dan automatic grinder untuk mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kualitas produk.
Selain itu, PalmCo menggelontorkan dana kemitraan sebesar Rp800 juta untuk memperkuat struktur usaha para perajin lokal.
Ketua kelompok Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, menegaskan dukungan tersebut menjadi titik balik saat pandemi Covid-19 menekan aktivitas ekonomi.
“Perusahaan tidak hanya menyerap produk, tetapi juga membimbing kami agar usaha berkembang,” ujar Desrico di Kampar, Riau.
Ia kemudian mengonsolidasikan bengkel kecil menjadi satu sentra produksi yang lebih efisien dan terintegrasi.
Langkah tersebut mempercepat adopsi teknologi sekaligus mengubah pola kerja dari manual menjadi berbasis mesin modern.
Efek Berganda Dorong Ekonomi Desa
Peningkatan produksi langsung mendorong penyerapan tenaga kerja di Desa Teratak secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah pekerja meningkat dari belasan orang menjadi 23 orang dan berpotensi bertambah hingga 50 orang dalam waktu dekat.
Selain itu, sekitar 100 pemuda desa ikut terlibat dalam distribusi dan pemasaran produk ke berbagai wilayah.
Kondisi ini menciptakan efek berganda yang menggerakkan ekonomi desa secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Pendapatan pekerja juga meningkat dengan rata-rata mencapai Rp7 juta per bulan dan berpotensi menembus Rp15 juta.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan program TJSL berorientasi pada dampak jangka panjang.
“Kami membangun ekosistem ekonomi mandiri yang mampu bertahan dan berkembang bersama masyarakat,” kata Jatmiko.
Ia juga menilai kemitraan ini memperkuat rantai pasok industri perkebunan melalui pelibatan pelaku usaha lokal.
Selain aspek ekonomi, kelompok usaha tersebut turut mengalokasikan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial di desa.
Langkah ini memperkuat solidaritas warga sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial.
Kini, Desa Teratak menunjukkan perubahan signifikan sebagai sentra produksi yang produktif dan kompetitif di sektor alat perkebunan.
Denting besi yang dahulu menjadi rutinitas kini berubah menjadi indikator kebangkitan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat.







