Jakarta, 1 September 2026 – Polri mengerahkan 176 personel untuk memperkuat perlindungan masyarakat setelah aktivitas Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meningkat.
Gunung Sinabung kini berstatus Level III atau Siaga setelah mengalami erupsi pada Senin (31/8/2026) pukul 10.17 WIB.
Polda Sumatera Utara menyiagakan 176 personel yang terdiri atas 92 personel Brimob, 80 personel Samapta, dan empat personel kesehatan.
Personel tersebut memperkuat pengamanan kawasan rawan, pelayanan masyarakat, dukungan kesehatan, kesiapan evakuasi, serta penyampaian informasi kebencanaan.
Polri menjalankan langkah tersebut bersama Pemkab Karo, TNI, PVMBG, BPBD, dan unsur terkait melalui koordinasi penanganan terpadu.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko meminta masyarakat tetap tenang dan mematuhi seluruh arahan petugas.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Ia meminta warga tidak memasuki kawasan yang telah dinyatakan berbahaya untuk mencegah jatuhnya korban akibat aktivitas vulkanik.
Aktivitas Vulkanik Masih Terpantau
Pemantauan pada Selasa (1/9/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB menunjukkan aktivitas Gunung Sinabung masih berlangsung.
Gunung tersebut mengeluarkan asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 50 hingga 600 meter.
Abu vulkanik terpantau bergerak menuju arah timur hingga tenggara berdasarkan hasil pemantauan periode tersebut.
Petugas juga mencatat sembilan kali gempa hembusan dan enam kali gempa vulkanik dalam.
Selain itu, tremor menerus tercatat dengan amplitudo dominan dua milimeter selama periode pemantauan.
Kondisi tersebut mendorong seluruh unsur terkait mempertahankan kesiapsiagaan karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Pemerintah dan aparat terus menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan perkembangan aktivitas serta rekomendasi resmi PVMBG.
Radius Bahaya Diperketat
Seiring status Siaga, radius aman ditetapkan hingga enam kilometer dari pusat aktivitas Gunung Sinabung.
Sementara itu, kawasan sekitar tiga kilometer dari pusat aktivitas menghadapi risiko tinggi lontaran material vulkanik.
Desa Payung dan Desa Kuta Tengah menjadi perhatian karena memiliki potensi terdampak awan panas.
Untuk mengurangi risiko paparan, petugas menutup sementara kawasan Lau Kawar dan kebun anggur.
Polri bersama TNI, BPBD, pemerintah daerah, dan unsur terkait melakukan pemantauan serta sterilisasi kawasan yang berpotensi membahayakan.
Petugas juga meminta masyarakat tidak mendekati kawasan tersebut untuk melihat aktivitas gunung maupun mengambil gambar.
Langkah itu bertujuan mencegah warga berada terlalu dekat dengan zona berbahaya ketika aktivitas vulkanik mengalami perubahan.
Masker hingga Jalur Evakuasi Disiapkan
Selain mengamankan kawasan rawan, pemerintah bersama TNI dan Polri menjalankan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak erupsi.
Petugas menyiram wilayah terdampak abu vulkanik serta membagikan 15.000 masker kepada masyarakat.
Pemerintah juga meliburkan sekolah selama dua hari di wilayah terdampak untuk mengurangi paparan abu vulkanik terhadap siswa.
Selain itu, petugas menyiapkan layanan kesehatan, dapur lapangan, logistik, kebutuhan dasar, posko terpadu, serta kendaraan evakuasi.
Kesiapan jalur evakuasi, titik kumpul, lokasi pengungsian, tenaga kesehatan, kendaraan, dan logistik terus diperiksa secara berkala.
Sosialisasi kepada masyarakat juga berjalan untuk memastikan warga memahami langkah yang harus mereka lakukan ketika kondisi darurat terjadi.
Posko Terpadu Penanggulangan Bencana beroperasi di Kantor Koramil 04/Simpang Empat sebagai pusat koordinasi penanganan.
Posko tersebut mengintegrasikan pemantauan situasi, pelayanan masyarakat, pengelolaan informasi, dan pengendalian langkah penanganan.
Polri Ingatkan Warga Saring Informasi
Trunoyudo meminta masyarakat menjadikan informasi PVMBG, pemerintah daerah, BPBD, dan petugas lapangan sebagai rujukan utama.
Menurutnya, informasi mengenai status gunung, radius bahaya, arah abu, hingga perintah evakuasi harus berasal dari sumber resmi.
“Kami meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi,” kata Trunoyudo.
Ia juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang dapat memicu kepanikan selama kondisi Gunung Sinabung masih dinamis.
“Jangan menyebarkan kabar yang dapat menimbulkan kepanikan. Ikuti arahan petugas dan segera bergerak menuju lokasi aman,” ujarnya.
Polri turut mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama pada wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Warga juga diminta membatasi aktivitas di ruang terbuka dan menjaga kondisi kesehatan selama paparan abu berlangsung.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan lainnya diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Hingga Selasa (1/9/2026), tidak terdapat laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Sinabung.
Polri bersama Pemkab Karo, TNI, PVMBG, BPBD, dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas gunung.
Seluruh langkah penanganan akan menyesuaikan kondisi lapangan dan rekomendasi resmi PVMBG demi menjaga keselamatan masyarakat.







