72 Siswa SMKN 8 Jakarta Didorong Kuasai Public Speaking dan Personal Branding

Jakarta – Sebanyak 72 siswa SMK Negeri 8 Jakarta mengasah kemampuan public speaking dan personal branding melalui workshop di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., dosen UHAMKA sekaligus praktisi public speaking dan pewara profesional, memimpin materi pelatihan tersebut.

Workshop bertajuk “Strategi Pengembangan Kompetensi Personal Branding dalam Retorika Public Speaking” itu melibatkan siswa kelas X dan XI jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Sekolah menggelar kegiatan itu untuk memperkuat kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, pengenalan potensi diri, dan kesiapan menghadapi dunia pendidikan serta pekerjaan.

Selain teori, peserta mengikuti diskusi, latihan vokal, teknik pernapasan, dan praktik berbicara langsung untuk menguji kemampuan komunikasi mereka.

Kepala SMKN 8 Jakarta, Siti Rustini, M.Pd., mengatakan sekolah perlu memberi ruang luas bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan personal.

Menurut Siti, proses pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga mencakup pengalaman, karakter, dan keterampilan komunikasi.

“Sekolah tidak hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi, pengalaman, dan kemampuan diri,” ujar Siti.

Karena itu, ia mendorong siswa menerapkan keterampilan komunikasi dalam kegiatan sekolah, kehidupan sosial, maupun persiapan menghadapi masa depan.

Siti menilai komunikasi yang baik membantu siswa menyampaikan gagasan, membangun relasi, berinteraksi, dan memperoleh wawasan dari lingkungan sekitar.

Kompetensi Komunikasi Perkuat Keahlian RPL

Ketua Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), Hasan Bakri Usman Lamatungga, menilai siswa RPL membutuhkan kemampuan komunikasi selain keterampilan teknologi.

Menurut Hasan, siswa RPL memang banyak bekerja dengan perangkat lunak dan teknologi, tetapi mereka tetap harus mampu menjelaskan gagasan kepada orang lain.

Kemampuan tersebut menjadi penting ketika siswa mempresentasikan karya, berdiskusi dalam tim, menjelaskan produk, atau berkomunikasi dengan pengguna.

Selanjutnya, Nurlina mengawali materi dengan mengajak siswa memahami bahwa komunikasi efektif membutuhkan kemampuan mendengarkan secara aktif.

“Salah satu kunci sukses komunikasi adalah banyak mendengarkan, mendengarkan bukan hanya dengan telinga tapi juga dengan hati dan pikiran,” kata Nurlina.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan mendengarkan membantu seseorang menganalisis, memahami, serta mengartikan pesan verbal dan nonverbal.

Menurutnya, kemampuan tersebut juga membantu seseorang merespons lawan bicara secara tepat sehingga komunikasi berjalan lebih efektif.

Nurlina kemudian menjelaskan personal branding sebagai proses mengenali karakter, nilai, pengalaman, kemampuan, dan keunikan diri.

Ia menyebut personal branding dapat meningkatkan kepercayaan, memperluas relasi, serta membuka peluang pendidikan dan pekerjaan.

Namun, Nurlina mengingatkan bahwa personal branding harus bertumpu pada kemampuan nyata dan rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, seseorang tidak cukup menciptakan kesan positif, tetapi perlu menunjukkan kompetensi melalui perilaku dan hasil kerja.

Latihan Konsisten Bentuk Kepercayaan Diri

Dalam materi pengembangan diri, Nurlina mengajak siswa mengenali kelebihan sekaligus keterbatasan masing-masing.

Ia mendorong peserta mengubah pola pikir yang menghambat, menggali potensi, dan menyusun rencana pengembangan diri.

Menurut Nurlina, konsep diri positif tercermin melalui kejujuran, keterbukaan, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, dan ketangguhan menghadapi tantangan.

Selain itu, ia mengaitkan pengembangan diri dengan profesionalisme karena era digital membuat reputasi seseorang semakin mudah diketahui publik.

Nurlina menilai public speaking dapat mendukung berbagai profesi karena banyak pekerjaan menuntut kemampuan menyampaikan informasi dan gagasan secara jelas.

Dalam sesi retorika, ia menjelaskan penerapan public speaking melalui pidato, presentasi, sambutan, kampanye, ceramah, dakwah, orasi, debat, sosialisasi, hingga pewara.

Ia kemudian menggali pengalaman peserta dalam berbicara di depan publik melalui kegiatan sekolah.

Sejumlah siswa mengaku pernah menjadi pembawa doa, pembawa acara, hingga pembaca Undang-Undang Dasar 1945 dalam upacara.

Pengalaman tersebut menjadi modal awal bagi siswa untuk meningkatkan keberanian melalui latihan yang lebih terarah.

Nurlina juga memperkenalkan glossophobia sebagai rasa takut atau kecemasan ketika seseorang harus berbicara di depan banyak orang.

Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak membangun keberanian secara instan karena latihan konsisten menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Karena itu, Nurlina mendorong siswa aktif menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, memberikan ide, dan berbicara dalam berbagai forum.

Kebiasaan tersebut membantu siswa mengurangi kegugupan sekaligus menemukan potensi komunikasi yang selama ini belum berkembang.

Kuasai Materi dan Pahami Audiens

Nurlina selanjutnya menekankan penguasaan materi dan pemahaman karakter audiens sebagai unsur penting dalam public speaking.

Ia menjelaskan bahwa pembicara harus menjaga perhatian audiens agar pesan tersampaikan secara jelas, menarik, dan mudah dipahami.

“Mempertahankan audiens adalah hal yang sulit, jadi menghargai itu adalah cara yang paling sederhana,” jelas Nurlina.

Menurutnya, pembicara perlu menghargai audiens, menguasai materi, membangun suasana, dan menyesuaikan penyampaian dengan kondisi forum.

Setelah memperoleh materi, peserta mengikuti latihan vokal dan pernapasan sebagai persiapan sebelum tampil di hadapan peserta lain.

Selanjutnya, siswa mempraktikkan kemampuan berbicara untuk menerapkan teknik sekaligus menguji keberanian mereka.

Puti Wulandari, siswa RPL, mengaku memperoleh pengalaman menyenangkan karena materi mudah dipahami dan narasumber mampu menciptakan suasana menarik.

“Saya kagum dengan cara Ibu berbicara yang percaya diri dan bisa membuat suasana menjadi menarik,” ujar Puti.

Sementara itu, Raisyaqia Almira Putri Darmawan, siswa kelas XI RPL, menilai praktik langsung membuat peserta lebih mudah memahami materi.

“Saya mendapatkan banyak pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan public speaking,” ungkap Raisyaqia.

Adapun Callysta Ramadhani, siswa kelas XI RPL, mengaku sempat gugup ketika mempraktikkan kemampuan berbicara di hadapan peserta lain.

Namun, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa public speaking membutuhkan proses, kesungguhan, dan latihan berkelanjutan.

Workshop tersebut memperkuat kompetensi siswa RPL yang selama ini berfokus pada teknologi dan pengembangan perangkat lunak.

Kemampuan komunikasi membantu siswa mempresentasikan karya, menjelaskan gagasan, bekerja dalam tim, dan membangun hubungan profesional.

SMKN 8 Jakarta sebelumnya juga menggelar pelatihan public speaking bagi siswa Program Studi Usaha Layanan Wisata bersama Nurlina.

Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya memperluas pengalaman siswa agar mampu mengembangkan kompetensi teknis sekaligus kemampuan personal.

Pada akhirnya, kemampuan public speaking dan personal branding dapat menjadi bekal siswa menghadapi pendidikan lanjutan serta dunia profesional.