Hadir Dalam Konpres Insiden Laskar FPI di Polda Metro, Pangdam Jaya Mayjen Dudung terkesan Genit dan Lebay

0
16

Jakarta 9/12-2020 -MonitorIndo.com-Abdi Maulana Direktur Eksekutif Aliansi Pemantau Lembaga Negara (APLAN), menyampaikan kepada wartawan, ada sedikit kekeliruan pada kejadian Konferensi Pers perihal 6 Orang Laskar FPI yang tewas diduga menyerang aparat kepolisian, sehingga terjadinya tembakan oleh oknum aparat Polda Metro Jaya.

Bagaimana tidak, Aliansi Pemantau Lembaga Negara (APLAN) menilai dengan adanya keikutsertaan sosok Pangdam Jaya di dalam Konferensi Pers tersebut dinilai terlalu genit dan terkesan pencitraan.

Sebab pada tupoksinya peristiwa tersebut bukan kasus kejahatan luar biasa ekstra ordinary crime atau kasus terorisme dimana adanya peran pelibatan TNI, sebab kejadian tersebut merupakan kriminal murni atas dugaan melawan aparat hukum.

Seharusnya Pangdam Jaya dapat lebih cerdas jikalau ingin mencari panggung ataupun pencitraan. Terlebih lagi dengan adanya polemik yang menimpa beliau akhir-akhir ini terkait dugaan Pangdam Jaya beralih fungsi menjadi Satpol PP. Seharusnya itu sudah cukup menjadi acuan dan referensi kepada Instansi TNI agar bijaksana dalam menjalankan tupoksinya sebagai garda pertahanan negara dan tindakan tersebut patut diduga sebagai arena pencitraan dalam panggung politik meniti karir jabatan yang lebih tinggi. Dan semestinya Mayjen Dudung memiliki jatidiri TNI sebagai tentara pejuang dan tentara rakyat yang kelahirannya berasal rakyat, terlebih infonya Mayjen Dudung ini berasal dari keluarga tukang kue yang notabene sebagai wong cilik.

Aliansi Pemantauan Lembaga Negara juga mendesak kepada Panglima TNI untuk segera mengevaluasi kinerja Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman, jangan sampai ulah seorang oknum TNI ini nantinya membuat memudarnya citra dan kecintaan rakyat terhadap TNI.

Abdi juga berpesan, ada baiknya kita menunggu terlebih dahulu pihak Kepolisian Republik Indonesia menjelaskan secara detail dan lengkap terkait peristiwa tersebut dengan merekontruksi dari tim pencari fakta independen atas insiden berdarah tersebut. Sebab, baik pihak Polri dan FPI memiliki versi masing-masing yang masih membuat rakyat terpolarisasikan atas peristiwa ini.(red)